Bone Bolango – SDN 1 Bone Raya, yang terletak di Desa Tombulilato, Kecamatan Bone Raya, Kabupaten Bone Bolango, menghadapi kondisi yang sangat memperihatinkan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar mengajar bagi para siswa, hancur akibat banjir besar pada tahun 2020. Sejak saat itu, sekolah tersebut terus berpindah-pindah lokasi demi melanjutkan proses pendidikan bagi 61 siswa yang kini tercatat dari kelas 1 hingga kelas 6.
Riskawati Pakaya, salah satu guru di SDN 1 Bone Raya, menjelaskan bahwa pasca-banjir, bangunan sekolah yang semula mereka gunakan untuk belajar hancur dan tidak layak pakai. “Kami sudah berupaya sekuat tenaga mencari tempat yang tepat untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar. Mulai dari menggunakan bekas rumah dinas guru hingga menyewa bangunan, termasuk masjid yang kami gunakan beberapa bulan terakhir,” ungkap Riskawati.

Dengan dukungan dari DPRD Kabupaten Bone Bolango, terutama Komisi I dan Anggota DPRD Dapil Bone Pesisir, sekolah tersebut akhirnya dapat menggunakan bangunan masjid untuk sementara waktu. Meski demikian, kondisi ini masih belum ideal. “Kondisi bangunan masjid sangat panas, dan siswa terpaksa belajar di ruang yang sama. Sering kali fokus mereka terganggu karena 6 kelas digabung dalam satu ruang,” tambah Riskawati. Dan dibenarkan salah guru kelas Ade Candra kadir
Hingga saat ini, SDN 1 Bone Raya memiliki total 61 siswa, 8 guru, 2 tenaga administrasi, dan kepala sekolah. Namun, meski sudah 6 bulan belajar mengajar di tempat tersebut, masalah masih terus berlangsung. “Kami sangat berharap agar pada awal tahun 2025, sekolah baru dapat segera dibangun. Kami ingin memiliki fasilitas yang layak seperti sekolah lainnya,” harapnya.
Masyarakat dan pihak terkait pun berharap agar pemerintah segera mewujudkan janji pembangunan sekolah baru yang memadai untuk memastikan kenyamanan dan kelancaran proses pendidikan bagi anak-anak di daerah tersebut.




















