Gorontalo – Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Gorontalo, Prof. Dr. H. Syamsu Qamar Badu, M.Pd memberikan pandangan kritis terkait polemik biaya pendidikan yang belakangan menjadi isu hangat di masyarakat. Menurutnya, ada beberapa faktor utama yang memengaruhi tingginya biaya pendidikan di Indonesia, terutama di jenjang perguruan tinggi.
“Biaya pendidikan itu ditentukan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah jenis jurusan atau program studi. Prodi di bidang kesehatan seperti farmasi, keperawatan, dan terutama kedokteran, cenderung memiliki biaya yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah,” ujar Ketua ICMI Gorontalo.
Ia juga menyoroti perbedaan mendasar antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dalam hal pembiayaan. “Jika di PTN sebagian besar biaya ditanggung oleh negara, di PTS seluruhnya ditanggung secara mandiri. Komponen biaya ini mencakup gaji dosen, pembangunan fasilitas, hingga pengembangan kurikulum dan akreditasi,” jelasnya.
Kondisi ini diperburuk oleh minimnya subsidi dan perhatian dari pemerintah terhadap PTS. Ia memaparkan data di Gorontalo, di mana terdapat 12 PTS dengan total mahasiswa mencapai 20.334 orang dan 917 dosen non-ASN yang bekerja dengan gaji pas-pasan.
“Betapa besar kontribusi PTS dalam peningkatan mutu SDM dan pembangunan di Gorontalo. Namun, sayangnya perhatian terhadap mereka masih jauh dari cukup,” tegasnya.
Ketua ICMI Gorontalo mengajak semua pihak, terutama pemerintah, untuk lebih serius mendukung perguruan tinggi swasta demi memastikan keberlanjutan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau bagi masyarakat. “Jika perhatian ini terus diabaikan, dampaknya akan sangat merugikan masa depan generasi muda dan pembangunan daerah,” tutupnya.






















