Bertahan Hidup di Tepi Danau Limboto: Kisah Agustin, Penjual Ikan yang Tak Kenal Menyerah

Penjual Ikan di jalan Reformasi, Kel. Hutuo Kec. Limboto (F . Yayan)
Penjual Ikan di jalan Reformasi, Kel. Hutuo Kec. Limboto (F . Yayan)

Otanaha.id -

Limboto, Gorontalo — Hidup di tepi Danau Limboto bukan sekadar soal menikmati keindahan alam, tetapi juga perjuangan bagi Agustin (35) dan suaminya. Bersama dua anak dan satu janin yang tengah dikandung, pasangan ini menggantungkan hidup dari hasil danau untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Berjualan ikan ini untuk makan, beli beras, dan keperluan lainnya,” ujar Agustin saat ditemui Kamis (23/1/2025), sembari melayani pembeli.

Agustin tinggal bersama suaminya di rumah ibu mertua mereka. Selama 15 tahun, ia berjualan ikan hasil tangkapan suaminya, mulai dari mujair, gabus, hingga jenis ikan danau lainnya. Harga jual berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram, tergantung ukuran ikan.

“Dari dulu jalan ini masih tanah sampai sekarang sudah diaspal, saya tetap di sini,” ungkap Agustin.

Meski telah lama berjuang, Agustin mengaku belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuatnya berharap bisa menerima Program Keluarga Harapan (PKH) atau bantuan lain untuk meringankan beban hidup.

“Saya belum pernah dapat bantuan pemerintah, padahal saya sangat butuh. Kalau ada, tentu akan sangat membantu kehidupan kami,” tuturnya.

Meski hidup serba kekurangan, Agustin tak pernah menyerah. Bersama suaminya, ia terus bekerja keras demi masa depan anak-anaknya. “Saya hanya ingin hidup lebih baik dan bisa punya rumah sendiri suatu hari nanti,” pungkasnya penuh harap.

Catatan: Artikel ini telah melalui proses wawancara langsung dengan narasumber.