Dosen IAIN Gorontalo Geruduk Rektorat! Tuntut Hak dan Transparansi Keuangan

Unjuk Rasa Dosen IAIN di dalam Gedung Rektorat kampus, 19/2/2025 ( F. Ist)
Unjuk Rasa Dosen IAIN di dalam Gedung Rektorat kampus, 19/2/2025 ( F. Ist)

Otanaha.id -

Gorontalo – Puluhan dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo menggelar aksi unjuk rasa di dalam Gedung Rektorat kampus, Rabu (19/2/2025). Aksi ini dipicu oleh dugaan ketidaktransparanan keuangan serta kebijakan internal kampus yang dianggap merugikan banyak pihak.

Salah satu tuntutan utama adalah keterlambatan pembayaran tunjangan Ketua Jurusan (Kajur) dan Sekretaris Jurusan (Sekjur) yang sudah empat bulan belum dibayarkan. Selain itu, para dosen juga mempertanyakan kejelasan dana pembangunan Masjid Kampus II yang hingga kini tidak diketahui penggunaannya.

“Kami meminta Rektor segera menyelesaikan dan merealisasikan sepuluh tuntutan ini. Jika tidak ada tindakan nyata, kami akan menggelar aksi yang lebih besar!” tegas Dikson Yasin, salah satu dosen yang berorasi.

Dari pantauan Hulondalo.id, berikut sepuluh tuntutan yang diajukan para dosen:

1. Pembayaran tunjangan Kajur dan Sekjur yang tertunda selama empat bulan.
2. Transparansi penggunaan dana pembangunan Masjid Kampus II.
3. Pengangkatan pejabat yang belum memenuhi syarat sesuai aturan akademik.
4. Dana Kuliah Kerja Sosial (KKS) yang sudah cair tetapi terancam digagalkan.
5. Realisasi janji umroh bagi Prodi Ekonomi Islam yang meraih predikat unggul tahun 2023.
6. Pembayaran Serdos dan fungsional Dosen Non-NIP yang tertunda dua bulan.
7. Perjalanan dinas tanpa batas yang diduga tidak efisien.
8. Isu pungutan liar (pungli) di program Pascasarjana.
9. Penurunan jumlah mahasiswa baru setiap tahun.
10. Sertifikasi dosen dan Tunjangan Kinerja (Tukin) yang sering tertunda.

Menariknya, Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo, Zulkarnain Suleman, tidak menemui para dosen yang berunjuk rasa. Menurutnya, sebagai pimpinan, dirinya tidak perlu turun langsung menghadapi bawahannya.

“Kalau mahasiswa yang demo, pasti saya terima. Tapi dosen? Saya pemimpin mereka, jadi mereka yang harus datang ke saya,” ujar Zulkarnain.

Terkait beberapa tuntutan, Zulkarnain menyebut keterlambatan terjadi akibat efisiensi anggaran dari pemerintah pusat. Ia berjanji bahwa jika kondisi kembali normal, semua kewajiban yang tertunda akan segera dibayarkan.

“Saya menyesalkan mereka tidak memahami kondisi ini,” tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda kesepakatan antara dosen dan pihak rektorat. Jika tuntutan tidak segera dipenuhi, besar kemungkinan aksi lanjutan dengan massa yang lebih besar akan kembali digelar.