KOTA GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG), melalui Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), resmi membuka Program Studi (Prodi) Pendidikan Khusus pada Senin, 22 April 2025. Peluncuran program ini bertepatan dengan kegiatan Halal Bihalal di lingkungan fakultas, dan menjadi tonggak penting dalam upaya UNG memperluas akses terhadap pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Peresmian Prodi Pendidikan Khusus dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain Kepala Balai Guru Penggerak (BGP), perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi dan Kota Gorontalo, para guru besar, serta ketua jurusan di FIP. Kehadiran mereka mencerminkan dukungan terhadap hadirnya prodi baru yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, Prof. Dr. Arwildayanto, M.Pd., menyampaikan bahwa pembukaan prodi ini merupakan wujud komitmen UNG dalam mewujudkan layanan pendidikan yang setara untuk semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.
> “UNG memberikan keadilan bagi semua untuk memperoleh layanan pendidikan. Maka, pendidikan khusus ini hadir sebagai bagian dari upaya mewujudkan inklusivitas pendidikan. Semua orang berhak dan harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar,” ujarnya.
Program Studi Pendidikan Khusus UNG akan mulai menerima mahasiswa baru pada tahun akademik 2025 melalui jalur mandiri. Pada tahap awal, kuota yang disediakan sebanyak 30 orang.
> “Kami ingin memanfaatkan semua media dan jaringan, termasuk dukungan dari Dinas Pendidikan. Harapannya, kuota ini bisa segera terpenuhi agar seluruh sumber daya bisa dimaksimalkan,” tambah Arwildayanto.
Terkait pembiayaan, mahasiswa baru akan dikenakan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) sebesar Rp4 juta dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp2 juta per semester. Besaran ini telah disesuaikan agar tetap terjangkau, sejalan dengan semangat inklusivitas.
Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT., menegaskan pentingnya kehadiran prodi ini mengingat masih minimnya sumber daya manusia (SDM) di bidang pendidikan khusus, baik di Gorontalo maupun secara nasional.
> “Pendidikan khusus ini adalah sebuah kebutuhan. Namun, realisasinya tidak mudah karena keterbatasan SDM. Kehadiran prodi ini diharapkan menjawab kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa lulusan Prodi Pendidikan Khusus tidak hanya diarahkan untuk Sekolah Luar Biasa (SLB), tetapi juga untuk semua jenjang pendidikan yang inklusif terhadap siswa berkebutuhan khusus.
> “Kita harus membangun lingkungan pendidikan yang ramah terhadap disabilitas. Seluruh sekolah seharusnya terbuka bagi anak-anak berkebutuhan khusus selama mereka mampu mengikuti pembelajaran,” tegas Prof. Eduart.
Dengan peluncuran Prodi Pendidikan Khusus, UNG menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang adaptif dan inklusif, serta responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.



















