Mahasiswa Pendidikan Khusus UBM Gorontalo Gelar Praktikum Mobilitas untuk Tuna Netra

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Budaya (FIPB) Universitas Bina Mandiri (UBM) Gorontalo melaksanakan praktikum mata kuliah Orientasi, Mobilitas Sosial, dan Emosi pada Selasa (17/6/2025)
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Budaya (FIPB) Universitas Bina Mandiri (UBM) Gorontalo melaksanakan praktikum mata kuliah Orientasi, Mobilitas Sosial, dan Emosi pada Selasa (17/6/2025)

Otanaha.id -

Gorontalo — Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Budaya (FIPB) Universitas Bina Mandiri (UBM) Gorontalo melaksanakan praktikum mata kuliah Orientasi, Mobilitas Sosial, dan Emosi pada Selasa (17/6/2025) siang, bertempat di lingkungan Kampus UBM.

‎Kegiatan ini didampingi langsung oleh Dosen sekaligus Ketua Prodi Pendidikan Khusus, Muh. Rijal, M.Pd. Praktikum tersebut difokuskan pada pelatihan mobilitas bagi penyandang tunanetra dengan menggunakan tongkat putih sebagai alat bantu.

‎Para mahasiswa mempelajari berbagai teknik dasar dalam penggunaan tongkat, seperti teknik kontak konstan, teknik sapuan, dan teknik verifikasi. Tujuannya adalah agar mereka memahami bagaimana alat ini membantu penyandang tunanetra mendeteksi rintangan, mengenali kondisi lingkungan, serta bergerak secara mandiri dan aman.

‎Muh. Rijal, M.Pd menjelaskan bahwa praktikum ini menggunakan metode penutup mata gelap, sehingga mahasiswa dapat merasakan secara langsung pengalaman penyandang tunanetra dalam menavigasi lingkungan sekitar. Mereka juga diajarkan cara memanfaatkan informasi lingkungan seperti suara, tekstur permukaan, serta hambatan fisik sebagai penunjang orientasi.

‎“Mata kuliah ini didominasi oleh praktik, sekitar 60 persen. Mahasiswa belajar teknik memegang tongkat, mengayunkannya dengan benar, serta mendeteksi rintangan. Mereka juga dikenalkan dengan berbagai jenis tongkat dan fungsinya. Hal ini penting sebagai bekal saat mendampingi siswa disabilitas, khususnya tunanetra, baik di kampus maupun sekolah,” ungkap Muh. Rijal.

‎Ia juga menambahkan, “Misalnya, jika kaki kanan di depan, maka lemparan tongkat berada di sisi kiri, dan sebaliknya. Jika tongkat menemukan hambatan, maka digunakan teknik penelusuran dengan tangan.”

‎Seluruh proses perkuliahan di Prodi Pendidikan Khusus dirancang berbasis praktik. Hampir semua mata kuliah disertai kegiatan praktikum, termasuk kunjungan lapangan ke Sekolah Luar Biasa (SLB) di Provinsi Gorontalo.

‎Manfaat dari praktikum ini adalah untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman mahasiswa dalam mendampingi penyandang tunanetra, serta menumbuhkan empati terhadap kebutuhan mereka. “Ini bagian dari upaya kami mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten, tapi juga memiliki empati tinggi,” tutup Muh. Rijal.