LIMBOTO – Krisis lahan pertanian akibat genangan Danau Limboto mendorong langkah cepat dari Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Dr. Espin Tulie, SE, M.Si. Dalam agenda resesnya di Kelurahan Hinggaluwa, Kecamatan Limboto, Selasa (1/7/2025), Espin mengusulkan solusi jangka menengah yang inovatif: alih fungsi lahan sawah terendam menjadi tambak jaring apung.
Dalam dialog bersama warga, Espin mengungkapkan bahwa ratusan hektare sawah di kawasan tersebut telah lumpuh produksi hampir setahun terakhir. Meski sebagian titik mulai pulih berkat pengerukan dan normalisasi sungai, kondisi masih jauh dari ideal. Karena itu, ia mengajak petani tidak hanya mengandalkan sawah, melainkan mulai mengembangkan sektor perikanan berbasis tambak jaring apung di pesisir danau.
“Jangan terus berharap lahan kembali seperti semula. Alam tidak bisa kita prediksi. Maka kita harus adaptif. Tambak jaring ini bisa jadi solusi nyata menjaga penghasilan masyarakat,” tegas Espin di hadapan puluhan warga yang hadir.
Usulan ini, kata Espin, sudah ia sampaikan langsung kepada Gubernur Gorontalo, H. Ismail Pakaya, dan mendapat respons positif. Ia juga menggagas akan diadakannya musyawarah bersama antara petani, nelayan, dan pemerintah lintas tingkatan, agar skema tambak ini bisa segera diimplementasikan.
Dari total sekitar 500 hektare sawah yang terdampak, hanya 10 persen atau sekitar 50 hektare yang kini bisa ditanami. Sisanya terancam menjadi lahan tidur jika tidak segera dicarikan alternatif. Espin menilai, pendekatan integratif antara pertanian dan perikanan selaras dengan program nasional Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam misi agro-maritim.
“Kalau program yang kita usulkan nyambung dengan Asta Cita Presiden dan arah kebijakan Gubernur, maka peluang kita mendapatkan dukungan pusat makin besar. Tambak ini bisa masuk skema Inpres Nomor 2 Tahun 2025 tentang akses jalan tani dan perikanan,” jelasnya.
Reses ini juga dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Gorontalo, Asmi Menu, yang berkomitmen mengawal aspirasi warga di level pemerintah kabupaten. Espin berharap, gagasan ini bisa menjadi bagian dari program strategis yang dibahas dalam Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan 2026, yang akan digelar di Kabupaten Gorontalo.
Lebih lanjut, ia menyampaikan hasil komunikasi dengan Kementerian Keuangan yang menyebutkan Danau Limboto masuk prioritas nasional penanganan lintas sektor. Ini menjadi peluang besar bagi masyarakat pesisir untuk lepas dari siklus krisis yang berulang setiap tahun.
“Jangan biarkan masyarakat terus jadi korban. Kita perlu bergerak cepat dan berpikir ke depan. Tambak jaring ini bukan sekadar solusi sementara, tapi bisa jadi sumber penghidupan baru,” tutupnya optimis. (Hadi)






















