Ekspor Juni 2025 Turun 65 Persen, Gorontalo Masih Aman dari Defisit Dagang

Aktivitas Bongkar Muat kontainer Pelabuhan Gorontalo ( Foto: Ist)
Aktivitas Bongkar Muat kontainer Pelabuhan Gorontalo ( Foto: Ist)

Otanaha.id -

‎Gorontalo – Nilai ekspor Provinsi Gorontalo pada Juni 2025 jeblok hingga 65 persen dibanding bulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor hanya sebesar US$3,99 juta (sekitar Rp64,7 miliar), jauh merosot dari US$11,43 juta pada Mei.

‎Meski begitu, neraca perdagangan Gorontalo tetap surplus. Ini karena tidak ada aktivitas impor yang tercatat sepanjang bulan tersebut.

‎Plt Kepala BPS Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, mengungkapkan bahwa penurunan terbesar terjadi pada dua kelompok komoditas utama, yaitu produk kayu (HS 44) dan buah-buahan serta kacang-kacangan yang dapat dimakan (HS 08).

‎“Ekspor dari pelabuhan Gorontalo lebih banyak berupa pelet kayu senilai US$1,83 juta. Sementara komoditas lain dikirim melalui pelabuhan luar seperti Surabaya dan Jakarta,” jelas Dwi dalam keterangannya.

‎Negara tujuan ekspor masih didominasi Jepang dengan nilai US$1,87 juta, disusul Jerman (US$857 ribu), Rusia (US$435 ribu), dan Inggris (US$371 ribu). Komoditas utama yang diekspor antara lain pelet kayu, kacang mete, produk olahan makanan, ikan, dan lemak nabati.

‎Secara akumulatif, total ekspor Januari–Juni 2025 mencapai US$40,61 juta atau sekitar Rp657,9 miliar, tumbuh 88,56 persen dibanding periode sama tahun lalu.

‎Karena nihil impor, neraca perdagangan Juni mencatat surplus penuh sebesar US$3,99 juta. Untuk periode Januari–Juni, total surplus mencapai US$35,9 juta.

‎Namun Dwi mengingatkan, meski angkanya positif, struktur ekspor Gorontalo masih rapuh. Ketergantungan pada komoditas tertentu membuat perekonomian rentan guncangan harga maupun permintaan global.

‎Ironisnya, meski mencetak surplus, kontribusi ekspor Gorontalo terhadap nasional hanya 0,03 persen hingga Mei 2025—terendah di antara seluruh provinsi di Sulawesi.

‎BPS menilai, perlu strategi diversifikasi produk ekspor dan pembukaan pasar baru agar performa ekspor lebih stabil dan tahan terhadap gejolak pasar.

‎“Surplus perdagangan penting, tapi ketergantungan terhadap satu-dua komoditas justru berisiko ke depan,” pungkas Dwi. (Hadi)