‎Disabilitas dan Lansia Meriahkan Upacara HUT RI ke-80 di Gorontalo, Bukti Semangat Kemerdekaan Tak Terbatas

Upacara Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesiadi Lapangan Kedai Tuli, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo, Minggu (17/8/2025).
Upacara Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesiadi Lapangan Kedai Tuli, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo, Minggu (17/8/2025).

Otanaha.id -

GORONTALO – Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung khidmat di Lapangan Kedai Tuli, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo, Minggu (17/8/2025). Acara ini digelar atas inisiatif Yayasan Putra Mandiri Gorontalo, yang melibatkan secara penuh para penyandang disabilitas dan lansia.

‎Ketua Yayasan Putra Mandiri Gorontalo, Raden Sahi, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata penghormatan terhadap hak-hak disabilitas dan lansia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas serta Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.

‎“Selama ini teman-teman disabilitas kerap terpinggirkan dari perayaan 17 Agustus. Maka, melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi, bahkan memimpin jalannya upacara,” ungkap Raden.

‎Upacara berlangsung istimewa. Petugas upacara berasal dari kalangan disabilitas, mulai dari komandan upacara yang merupakan penyandang autisme, pembawa acara (MC) juga autis, hingga pembaca teks Undang-Undang Dasar 1945 oleh penyandang tuna netra, Oman Ali. Momen tersebut disambut haru sekaligus bangga, karena bagi Oman, inilah pertama kalinya ia didaulat membacakan teks konstitusi pada upacara kemerdekaan.

‎Selain upacara, kegiatan juga dirangkaikan dengan lomba-lomba sederhana seperti memasukkan pensil dalam botol dan permainan rakyat lainnya. Pada siang harinya, enam kelompok dari Yayasan Putra Mandiri ikut serta dalam gerak jalan kemerdekaan, menambah semarak suasana peringatan HUT RI ke-80.

‎Raden Sahi menambahkan, kendala utama partisipasi para disabilitas dan lansia adalah masalah transportasi. Dari total 1.043 disabilitas dan 625 lansia binaan yayasan, hanya sekitar 60 persen yang hadir. “Banyak dari mereka yang sudah bedrest atau tidak memiliki biaya transportasi. Ke depan, kami berharap pemerintah daerah bisa memfasilitasi, minimal menyediakan kendaraan jemputan,” tegasnya.

‎Melalui momentum kemerdekaan ini, pihak yayasan berharap pemerintah dan masyarakat semakin memberi ruang serta perhatian kepada penyandang disabilitas dan lansia. “Jika undang-undang dijalankan dengan baik, mereka pasti bisa sejahtera. Hari ini, mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencintai tanah air,” pungkas Raden.

‎Semangat yang ditunjukkan para disabilitas dan lansia pada upacara ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika semua warga negara, tanpa terkecuali, mendapatkan hak yang sama untuk berpartisipasi membangun Indonesia. (Hadi)