Gorontalo – Kehadiran Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Pusat, Prof. Dr. Agus Taufik Mulyono, MT, IPU, ASEAN Eng., yang akrab disapa Prof. ATM, menjadi momentum penting bagi pengurus PII Wilayah dan Cabang se-Provinsi Gorontalo. Kunjungan ini bertujuan memperkuat peran serta eksistensi organisasi profesi insinyur di daerah.
Salah satu agenda kunjungan Prof. ATM adalah silaturahmi dan diskusi di Kampus Universitas Bina Mandiri (UBM) Gorontalo. Kehadiran beliau disambut hangat oleh Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah Gorontalo sekaligus Ketua Yayasan Bina Mandiri Gorontalo (YBMG) dan Wakil Ketua PII Wilayah Gorontalo, Dr. Ir. Azis Rachman, ST, MM, ASEAN Eng.
Dalam sambutannya, Dr. Azis memberikan apresiasi atas kunjungan tersebut sebagai wujud komitmen memperkuat kolaborasi antara PII dengan perguruan tinggi, khususnya UBM Gorontalo yang selama ini menjadi mitra dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Gorontalo. “Kehadiran Prof. ATM bukan sekadar kunjungan silaturahmi, tetapi langkah strategis untuk memastikan pengembangan profesi insinyur di Gorontalo selaras dengan kebutuhan daerah dan regulasi nasional,” ujarnya.

Dalam arahannya, Prof. ATM menegaskan bahwa eksistensi PII memiliki dasar hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, yang diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2019 tentang pelaksanaannya. Setiap insinyur, baik di instansi pemerintah maupun swasta, wajib memiliki Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) sebagai bukti resmi kompetensi dan keahlian.
“STRI bukan hanya formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab profesi untuk menjamin kualitas dan akuntabilitas layanan keinsinyuran,” tegas Prof. ATM. Ia menambahkan bahwa insinyur dituntut hadir sebagai problem solver, bukan sekadar pelaksana teknis, serta harus mampu memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan berkelanjutan, berdaya saing global, dan ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Prof. ATM mengingatkan pentingnya regenerasi melalui keterlibatan mahasiswa teknik dan calon insinyur agar lebih aktif dalam organisasi profesi. PII, menurutnya, harus menjadi rumah besar bagi insinyur Indonesia, memastikan praktik keinsinyuran berjalan sesuai standar etika dan kompetensi.
Kunjungan Prof. ATM diharapkan menjadi pemicu semangat bagi PII Wilayah dan Cabang se-Provinsi Gorontalo untuk semakin aktif memperkuat organisasi dan mendorong anggotanya memenuhi standar profesional. “Dengan demikian, PII tidak hanya menjadi wadah profesi, tetapi juga mitra strategis pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berkualitas, berkelanjutan, dan berdaya saing,” tutupnya.
Kegiatan diskusi diakhiri dengan ramah tamah dan sesi foto bersama sebagai pengingat momentum penting bagi pengurus PII Gorontalo. (*)






















