UBM Gorontalo Gelar Pesantren Kilat, Tanamkan Nilai Karakter Islami pada Mahasiswa Baru ‎

UBM Gorontalo menggelar kegiatan Pesantren Kilat bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2025.
UBM Gorontalo menggelar kegiatan Pesantren Kilat bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2025.

Otanaha.id -

Gorontalo – Universitas Bina Mandiri (UBM) Gorontalo menggelar kegiatan Pesantren Kilat sebagai bagian dari rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2025. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari keempat PKKMB, Kamis (28/8/2025), dan dirancang sebagai momen penting penanaman nilai iman, takwa, serta pembentukan karakter islami bagi mahasiswa baru.

‎Sejak pagi, para mahasiswa baru terlihat tertib duduk di atas karpet yang telah disiapkan panitia. Sambil menunggu kehadiran pemateri, kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sholawat Nabi Muhammad SAW.

‎Ketua Panitia SPKKMB UBM Gorontalo, Erfan Lainjong, M.Epid, menyampaikan bahwa pelaksanaan PKKMB tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain materi sesuai pedoman Kementerian Diktisaintek, mahasiswa juga mengikuti Pesantren Kilat hingga Sabtu (30/8/2025).

‎“Pada kegiatan ini hadir tiga penceramah kondang di Gorontalo, yakni Ust. Husni Idrus, Lc, M.Si, Ust. AKP Moh. Atmal Fauzi, dan Ust. Yahya Salilama, S.Ag. Selain itu, UBM juga menghadirkan ustaz internal kampus, yaitu Dr. Imam Mashudi, Rahmat Nasila, M.E., dan Rahmat T. Usman, M.Si. Tujuan utamanya adalah membentuk karakter islami mahasiswa baru agar lebih baik, sopan, menghormati dosen, serta mengamalkan nilai keislaman dalam kehidupan kampus,” ujar Erfan.

‎Pada sesi inti Pesantren Kilat, Ust. Husni Idrus, Lc, M.Si membawakan ceramah bertema “Kiat Menjadi Mahasiswa Berkarakter Islami di Era Digital”. Ia menekankan makna wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yakni QS. Al-‘Alaq ayat 1, tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan menjadikan Allah SWT sebagai pusat kesadaran dalam setiap aktivitas.

‎“Perintah Allah dalam surat ini tidak hanya tentang membaca tulisan, tetapi juga mendalami dan memahami realitas kehidupan, alam semesta, dan masyarakat. Maka, pendidikan karakter mahasiswa harus dimulai dari internalisasi nilai etika dan akhlak yang berlandaskan ketaatan kepada Allah SWT,” jelasnya.

‎Lebih lanjut, Ust. Husni mencontohkan teladan Prof. Dr. B.J. Habibie dalam mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) sebagai upaya membangun umat Islam yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus berlandaskan keimanan dan ketakwaan.

‎Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk membekali diri tidak hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga soft skill seperti integritas, kejujuran, tanggung jawab, kepemimpinan, serta kemampuan berkomunikasi. “Mahasiswa juga perlu berani tampil di muka umum, misalnya sebagai pembawa acara atau penceramah, agar mampu memberikan kontribusi positif di masyarakat,” tutupnya. (*)