GORONTALO – Perpustakaan Universitas Bina Mandiri (UBM) Gorontalo menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Perencanaan Strategik UBM di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0”, Sabtu (13/9/2025).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, Guru Besar Universitas Negeri Makassar, Prof. Dr. Basri Modding, M.Si., serta dihadiri oleh Ketua Yayasan Bina Mandiri Gorontalo (YBMG) Dr. Azis Rachman, MM, Rektor UBM Gorontalo Dr. Titin Dunggio, M.Si., M.Kes., Direktur Program Pascasarjana Prof. Dr. Arifin Tahir, M.Si., para wakil rektor, dekan, ketua program studi, dan kepala unit pelaksana teknis (UPT) di lingkungan kampus.
Dalam sambutannya, Dr. Azis Rachman menegaskan bahwa sejak 2019, UBM telah merumuskan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang. Hasilnya, sejumlah program studi (Prodi) unggulan berhasil dibuka, antara lain Prodi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Prodi Manajemen Kontrak Pemerintahan (MKP), dan Prodi Hubungan Internasional (HI). Ketiga Prodi ini dinilai unik serta dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri (DUDI), bahkan Prodi HI menjadi satu-satunya di Provinsi Gorontalo dan wilayah kerja LLDIKTI XVI.
“Seluruh sivitas akademika UBM Gorontalo harus disiplin menjalankan perannya masing-masing. Pendekatan spiritual juga penting agar dapat melahirkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan berkarakter,” ujar Dr. Azis.
Ia menambahkan, YBMG berkomitmen memperkuat tata kelola dan layanan akademik melalui perencanaan berkesinambungan. Meski masih ada kegiatan yang belum optimal di beberapa unit, evaluasi dan pendampingan akan terus dilakukan agar solusi tepat dapat ditemukan.
Sementara itu, Prof. Basri Modding dalam paparannya menekankan pentingnya kebersamaan dalam mengelola organisasi. Menurutnya, setiap unit kerja harus mampu menyelaraskan antara bekerja dan beribadah, serta melaksanakan tugas secara optimal untuk meraih kesuksesan bersama.
“Seluruh unit kerja harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi, memperkuat kurikulum fleksibel, meningkatkan kompetensi, serta mengembangkan riset dan pengabdian berbasis inovasi. Selain itu, kolaborasi strategis dengan industri dan pemerintah daerah perlu diperluas agar lulusan UBM benar-benar adaptif dan inovatif,” jelas Prof. Basri.
Ia menegaskan, pencapaian predikat unggul hanya dapat diraih melalui akumulasi dua hal: karakter moral dan karakter kinerja. Disiplin, amanah, serta penguasaan keterampilan praktis harus menjadi budaya kerja dosen maupun tenaga kependidikan.
“Dosen perlu meningkatkan kapasitas akademik melalui riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak nyata bagi pembangunan daerah. Kerja sama antarperguruan tinggi dalam penelitian juga menjadi langkah penting untuk memperkuat kontribusi UBM,” tambahnya.
Prof. Basri juga menekankan pentingnya strategi branding positif untuk memperkuat identitas institusi. Menurutnya, penguatan digitalisasi melalui website, media sosial aktif, serta promosi langsung akan memperluas kehadiran UBM hingga ke tingkat regional kawasan timur Indonesia.




















