GORONTALO — Rencana penerapan sistem satu arah di ruas Jalan Dr. H.B. Jassin atau eks Jalan Agussalim mendapat dukungan akademisi. Pengamat transportasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Yuliyanti Kadir, menilai kebijakan ini sebagai langkah strategis untuk mengurai kemacetan di pusat Kota Gorontalo.
Menurutnya, ruas H.B. Jassin memiliki peran penting sebagai jalur penghubung antara kawasan pinggiran dan pusat kota. “Ruas ini merupakan koridor vital bagi distribusi barang dan mobilitas penduduk dari arah Kabupaten Gorontalo menuju pusat kota dan sebaliknya,” ujar Yuliyanti, Minggu (26/10/2025).
Ia menjelaskan, berdasarkan Keputusan Menteri PUPR Nomor 430/KPTS/M/2022, ruas tersebut secara administrasi masih tercatat sebagai Jalan Agussalim sepanjang 4,72 kilometer dengan status jalan arteri primer.
Dari sisi fungsional, penerapan sistem satu arah diyakini mampu meningkatkan kapasitas jalan karena arus kendaraan menjadi lebih teratur.
“Dengan sistem satu arah, konflik antar kendaraan berkurang, kecepatan meningkat, dan waktu tempuh lebih efisien,” tambahnya.
Selain efisiensi, sistem ini juga dinilai meningkatkan keselamatan lalu lintas. Risiko tabrakan berhadapan dapat ditekan, terutama di titik simpang padat.
“Dengan pengaturan marka dan sinyal yang tepat, potensi kecelakaan bisa ditekan,” jelasnya.
Lebih jauh, penerapan sistem satu arah juga membuka peluang untuk penataan ruang kota yang lebih rapi, seperti jalur pedestrian, area parkir, dan halte angkutan umum.
Meski begitu, Yuliyanti mengingatkan perlunya kajian komprehensif dan sosialisasi sebelum penerapan penuh.
“Pengendara mungkin harus memutar lebih jauh. Karena itu, perlu masa transisi agar masyarakat beradaptasi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti potensi perpindahan arus ke ruas lain seperti Jalan Palma, Jalan Jeruk, Jalan Irian, dan Jalan Manado.
“Kalau tidak diantisipasi, bisa muncul kemacetan baru,” katanya.
Menurutnya, efektivitas kebijakan ini bergantung pada kajian ilmiah berbasis data lapangan.
“Jika disusun dengan pendekatan ilmiah, hasilnya akan berkelanjutan,” tegasnya.
Tak semua pihak sepakat dengan kebijakan tersebut. Topan Mursaha, salah satu pengemudi ojek online di Gorontalo, menilai penerapan satu arah di Jalan H.B. Jassin belum mendesak.
“Menurut saya, belum cocok dibuat satu arah karena jalan ini belum terlalu padat, kecuali di jam-jam tertentu,” ujarnya kepada Tribun Gorontalo, Sabtu (25/10/2025).
Ia mengaku khawatir kebijakan ini justru membuat jarak tempuh pengendara lebih panjang.
“Efektivitas waktu berkurang, jadi kurang nyaman,” keluhnya.
Dishub: Uji Coba Dua Hari, Dua Jam Per Hari
Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Kota Gorontalo, Rahmanto Idji, menjelaskan bahwa penerapan sistem satu arah di Jalan H.B. Jassin masih sebatas uji coba pada 27–28 Oktober 2025, masing-masing dua jam per hari.
“Ini masih tahap uji coba. Kami ingin lihat efektivitasnya dulu,” kata Rahmanto, Selasa (22/10/2025).
Arus kendaraan akan diarahkan dari Simpang Empat MCD ke arah utara hingga Simpang Lima Telaga. Pengendara dari arah sebaliknya akan dialihkan melalui Jalan Andalas atau Jalan Rambutan.
Uji coba ini dilakukan karena volume kendaraan di ruas tersebut meningkat 5–10 persen per tahun. Tingkat layanan jalan (LOS) sudah mencapai kategori D, dengan V/C ratio 0,82 atau 82 persen badan jalan terisi kendaraan.
“Kalau hasil evaluasi baik, baru kita lanjutkan dengan penyesuaian,” ujarnya.
Rahmanto menambahkan, pelaksanaan uji coba telah disetujui Kementerian Perhubungan setelah melalui rapat koordinasi bersama kepolisian, BPJN, dan BPTD Gorontalo.
“Kami mohon dukungan masyarakat. Tujuannya bukan mempersulit, tapi menata arus lalu lintas agar lebih tertib dan aman,” pungkasnya. (Hadi)




















