GORONTALO — Waktu berjalan cepat. Lima tahun terasa singkat sejak masyarakat Kota Gorontalo terakhir mencoblos di TPS. Kini, obrolan politik mulai kembali hangat di warung kopi, membicarakan siapa sosok yang pantas memimpin kota ini pasca-era Adhan–Indra.
Menariknya, dua nama mulai banyak disebut: Fikram A.Z. Salilama dan Indriani Dunda. Keduanya dinilai punya modal kuat—pengalaman, elektabilitas, dan rekam jejak politik yang sudah teruji—untuk melanjutkan arah kepemimpinan duet Adhan–Indra.
Fikram A.Z. Salilama: Pejuang Seribu Aspirasi
Politisi senior Golkar ini bukan nama baru di jagat politik Gorontalo. Fikram dikenal publik sebagai pejuang seribu aspirasi—julukan yang ia dapatkan dari kedekatannya dengan masyarakat serta kemampuannya memperjuangkan berbagai kebutuhan warga.
Sikapnya yang kalem, sabar, dan penuh perhitungan membuat langkah politik Fikram sering disamakan dengan permainan catur—tenang tapi tepat sasaran. Tak heran, DPD II Golkar Kota Gorontalo mempercayainya sebagai ketua dan kembali menugaskannya memimpin fraksi Golkar di DPRD Provinsi Gorontalo.
Bahkan, dalam penetapan suara Pemilu terakhir, KPU Gorontalo mencatat Fikram meraih 8.697 suara, angka yang menegaskan kuatnya basis dukungan di tingkat akar rumput.
“Belum lengkap perjalanan politik Fikram kalau belum duduk di kursi Wali Kota,” kata sejumlah warga dalam berbagai forum reses. Usianya yang kini 62 tahun justru dinilai sebagai simbol kedewasaan politik dan pengalaman panjang dalam membangun jejaring lintas partai maupun komunitas.
Indriani Dunda: Srikandi NasDem yang Konsisten Turun ke Rakyat
Nama Indriani Dunda juga semakin sering disebut sebagai figur perempuan potensial di Pilwako 2029. Politisi NasDem ini kini menjabat sebagai Anggota DPRD Provinsi Gorontalo dua periode berturut-turut dan dipercaya sebagai Ketua Fraksi NasDem DPRD Provinsi Gorontalo.
Pada Pemilu 2024 lalu, Indriani sukses meraih 7.703 suara, sebuah capaian yang mencerminkan kedekatannya dengan masyarakat, khususnya kalangan pelaku UMKM. Ia dikenal vokal memperjuangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil dan aktif turun langsung ke lapangan memastikan program pemerintah berjalan tepat sasaran.
Sempat digadang-gadang menjadi pendamping Adhan Dambea di Pilwako 2024, Indriani akhirnya memilih fokus memperkuat basis politik di legislatif. Namun, peluangnya untuk kembali tampil di kontestasi 2029 disebut semakin terbuka, terutama jika berpasangan dengan tokoh berpengalaman seperti Fikram.
“Kolaborasi Fikram dan Indriani bisa menjadi harmoni antara pengalaman dan semangat baru,” kata salah satu pengamat politik lokal yang menilai duet ini bisa menjadi simbol kelanjutan visi kepemimpinan Adhan–Indra dengan gaya lebih segar dan inklusif.
Dengan kombinasi karakter Fikram yang matang dan strategi lapangan Indriani yang progresif, pasangan ini dinilai bisa menghadirkan warna baru dalam peta politik Kota Gorontalo. Terlebih, keduanya sama-sama dikenal memiliki kedekatan dengan masyarakat dan rekam jejak bersih di dunia politik.
Pilkada 2029 memang masih empat tahun lagi. Namun geliatnya mulai terasa. Jika politik adalah permainan strategi, maka nama-nama seperti Fikram dan Indriani tampaknya mulai menyiapkan langkah awal—dengan arah yang jelas: melanjutkan semangat kepemimpinan Adhan–Indra dengan cara yang lebih modern, terbuka, dan membumi.






















