GORONTALO – Tren penurunan harga kembali terjadi di Provinsi Gorontalo. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Oktober 2025 Gorontalo mengalami deflasi sebesar 0,14 persen dibanding bulan sebelumnya. Ini menjadi deflasi ketiga berturut-turut sejak Agustus lalu.
Plt. Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, menyampaikan hal tersebut dalam rilis resmi Indeks Harga Konsumen (IHK) yang digelar Senin (3/11/2025). Kegiatan itu turut dihadiri Asisten Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setda Provinsi Gorontalo, Jamal Nganro.
“Sejak Agustus, harga-harga di Gorontalo cenderung menurun. Agustus deflasi 0,73 persen, September 0,12 persen, dan Oktober 0,14 persen. Ini menunjukkan kondisi harga relatif stabil,” ujar Dwi.
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Gorontalo tercatat 2,44 persen, dan secara tahun kalender (year to date/ytd) sebesar 1,39 persen — lebih rendah dibanding capaian nasional yang masing-masing berada di angka 2,86 persen (yoy) dan 2,10 persen (ytd).
Dwi menjelaskan, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi bulan ini dengan kenaikan 2,81 persen, disusul transportasi yang naik 1,13 persen dan memberi andil 0,12 persen terhadap inflasi umum.
Beberapa komoditas yang memicu kenaikan harga antara lain emas perhiasan, angkutan udara, daun bawang, daging ayam ras, tomat, dan apel.
Namun demikian, deflasi lebih besar terjadi karena turunnya harga sejumlah bahan pangan utama seperti cabai rawit (-0,15 persen) dan beras (-0,14 persen). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau bahkan mencatat deflasi cukup tajam sebesar -1,36 persen, dengan andil -0,50 persen terhadap deflasi umum.
“Turunnya harga pangan menjadi faktor utama deflasi kali ini. Ini pertanda pasokan masih cukup baik menjelang akhir tahun,” tambah Dwi.
Selain perkembangan inflasi, BPS juga melaporkan kondisi nilai tukar petani, ekspor-impor, transportasi, pariwisata, serta produksi padi dan jagung di Gorontalo selama tahun 2025. (Hadi)






















