GORONTALO — Di balik sorak-sorai kebahagiaan pada Ramah Tamah Universitas Bina Taruna (UNBITA) Gorontalo Tahun 2025, ada satu sosok yang membuat suasana seketika menjadi hening: Agum Presiawan Tubuon. Mahasiswa yang terpilih sebagai Mahasiswa Terbaik UNBITA 2025 ini bukan hanya berdiri karena prestasi, tetapi karena cerita perjalanan panjang yang tidak selalu penuh tepuk tangan.
Agum dikenal sebagai mahasiswa yang sering hadir paling awal, pulang paling akhir, bekerja dalam diam untuk kampus yang ia cintai. Ketika namanya diumumkan sebagai mahasiswa terbaik, banyak yang tahu: penghargaan itu bukan sekadar hasil belajar, tetapi rangkuman dari tahun-tahun pengorbanan, kegigihan, dan keyakinan yang tak pernah padam.
Perjalanan Penuh Tekanan, Tapi Tak Pernah Berjalan Mundur
Selama menempuh studi di Administrasi Publik, Agum tidak hanya memikul tuntutan akademik. Ia harus membagi diri menjadi peneliti muda, aktivis organisasi, penggerak literasi, hingga sumber inspirasi bagi mahasiswa baru. Di saat banyak mahasiswa lain berfokus menyelesaikan kuliah, Agum justru memilih jalan yang lebih berat: mengambil peran di setiap ruang yang membutuhkan kehadirannya.
Di komunitas From Zero to Hero, ia menjadi mentor yang sering menenangkan mahasiswa yang hampir menyerah. Di forum ilmiah, ia menjadi suara yang mengingatkan bahwa ilmu harus turun ke masyarakat. Dan dalam banyak kegiatan literasi daerah, ia menjadi tangan yang bekerja tanpa publikasi, mendistribusikan buku hingga ke kampung-kampung terpencil.
Kiprah Organisasi yang Kadang Membuatnya Lelah, Tapi Tak Berhenti
Di luar kampus, Agum memikul banyak amanah:
Ketua Bidang Organisasi IMM Kota Gorontalo (2025–2026)
Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan IPM Wilayah Gorontalo (2024–2026)
Sekretaris Yayasan Gorontalo Baik Indonesia (2022–2023)
Ketua Umum IPM Minahasa Selatan (2018–2020)
Dengan tanggung jawab yang begitu berat, Agum tidak jarang harus mengorbankan waktu pribadinya. Namun ia tetap melangkah, dengan alasan sederhana: “Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?”
Menjadi Tulang Punggung Kehumasan Kampus
Di UNBITA, Agum bukan hanya mahasiswa. Ia adalah salah satu roda yang menggerakkan kampus hari demi hari:
Kepala Bagian Kerjasama, Kehumasan, dan Kesekretariatan (2025)
Kepala Divisi Humas, Protokoler, dan Kemahasiswaan (2021–2025)
Dari menyusun strategi komunikasi hingga mengatur forum-forum resmi kampus, Agum menjalani semuanya dengan ketenangan yang kadang membuat orang lupa bahwa ia juga sedang berjuang menyelesaikan studinya sendiri.
Prestasi yang Lahir dari Tekanan dan Perjuangan Panjang
Deret prestasinya panjang, tetapi hanya Agum yang tahu bagaimana air mata, rasa cemas, dan hari-hari penuh beban mengiringi setiap pencapaiannya:
Juara 2 Debat Basa LLDIKTI XVI (2024)
Terbaik I Humas Perguruan Tinggi LLDIKTI XVI (2022)
Pemenang I Duta Bahasa Provinsi Gorontalo (2023)
Delegasi Pelatihan Manajemen Kebencanaan di Ambon (2022)
Kontributor buku cerita anak dwibahasa
Pemegang sertifikasi CPPS (2022)
Prestasi yang tampak gemilang itu sebenarnya lahir dari banyak malam panjang yang tidak pernah disaksikan siapapun.
Pidato yang Membuat Ruangan Senyap
Dalam pidatonya di Ramah Tamah 2025, suara Agum sempat bergetar. Bukan karena gugup, tetapi karena ia menahan emosi perjalanan panjangnya.
“Wisuda bukan garis akhir,” ucapnya lirih.
“Ini adalah pengingat bahwa kita harus pulang membawa manfaat. Indonesia tidak hanya butuh orang pintar, tetapi orang pintar yang peduli.”
Beberapa tamu terlihat menyeka mata. Kata-kata sederhana itu menyentuh banyak orang, karena datang dari seseorang yang sudah membuktikan kepedulian itu lebih dulu.
Agum juga menyampaikan terima kasih kepada orang tua, dosen, program KIP Kuliah, dan masyarakat yang menjadi alasan ia tetap kuat ketika hampir runtuh.
Figur yang Tidak Mencari Panggung, Tapi Justru Menjadi Cahaya
Di UNBITA, Agum dianggap sebagai representasi nilai kampus: kompeten, profesional, berintegritas. Namun lebih dari itu, ia adalah simbol keteguhan: seseorang yang memilih berjalan jauh meski jalannya tidak pernah mudah.
“Nama kita bukan untuk ditulis di ijazah semata,” katanya mengakhiri pidato.
“Nama kita harus ditulis dalam hati masyarakat.”
Kini, setelah wisuda, banyak pihak meyakini bahwa perjalanan Agum baru dimulai. Dan seperti langkah-langkah sunyi sebelumnya, ia mungkin akan tetap berjalan tanpa banyak bicara—tetapi jejaknya akan kembali terlihat, menguatkan banyak orang yang membutuhkannya. (Hadi)





















