Daerah  

Simulasi Ricuh di Bandara Djalaluddin, Aparat Uji Kesiapsiagaan Keamanan Jelang Nataru

Simulasi Pananganan Ricuh di Bandara Djalaludin Gorontalo. (F. Ist)
Simulasi Pananganan Ricuh di Bandara Djalaludin Gorontalo. (F. Ist)

Otanaha.id -

‎GORONTALO – Skenario kerusuhan massal mewarnai kawasan Bandara Djalaluddin Gorontalo, Kamis (18/12/2025). Massa digambarkan menyerang petugas, membakar kendaraan, hingga memicu bentrokan dengan aparat keamanan.

‎Namun, situasi tersebut bukan kejadian nyata. Seluruh rangkaian merupakan bagian dari simulasi penanganan keadaan darurat keamanan penerbangan menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

‎Latihan digelar usai apel pembukaan Posko Terpadu Angkutan Udara dan melibatkan sejumlah unsur pengamanan, mulai dari Satuan Brimob Polda Gorontalo, petugas Aviation Security (Avsec) bandara, hingga instansi terkait lainnya.

‎Kepala Bandara Djalaluddin Gorontalo, Joko Harjani, mengatakan simulasi ini dirancang dengan skenario terburuk yang berpotensi terjadi di lingkungan bandara.

‎“Skenario dimulai dari penolakan massa terhadap kedatangan pimpinan organisasi masyarakat, yang kemudian berkembang menjadi aksi anarkis,” ujar Joko.

‎Dalam simulasi, massa digambarkan menyerang petugas bandara dan melakukan pembakaran kendaraan. Aparat Brimob kemudian diterjunkan untuk mengamankan lokasi, membubarkan massa, serta melakukan langkah-langkah pengendalian dan mediasi.

‎Menurut Joko, latihan ini bukan sekadar formalitas. Tujuannya untuk menguji kecepatan respons, ketepatan prosedur, serta soliditas koordinasi lintas instansi dalam menghadapi kondisi darurat.

‎“Setiap petugas harus memahami perannya. Dalam situasi nyata, tidak ada ruang untuk ragu atau salah langkah,” tegasnya.

‎Simulasi ini turut dipantau perwakilan Otoritas Bandar Udara Wilayah VIII Manado sebagai bagian dari evaluasi standar keamanan penerbangan.

‎Selain latihan darurat, pengamanan Bandara Djalaluddin selama masa Nataru juga diperketat. Pemeriksaan penumpang dilakukan lebih intensif guna mencegah potensi gangguan terhadap keselamatan penerbangan.

‎“Penumpang yang dinilai berisiko membahayakan keselamatan tidak akan diizinkan untuk terbang,” kata Joko.

‎Sebagai salah satu pintu utama mobilitas masyarakat Gorontalo saat Nataru, Bandara Djalaluddin memastikan seluruh sistem keamanan dalam kondisi siap menghadapi berbagai kemungkinan. (Hadi)