Cemburu Asmara Berujung Kekerasan, Siswi SMA di Gorontalo Dianiaya Tiga Rekannya

Ilustrasi : Penganiayaan Siswi oleh rekannya
Ilustrasi : Penganiayaan Siswi oleh rekannya

Otanaha.id -

GORONTALO, – Kasus kekerasan antarremaja kembali terjadi di Kota Gorontalo. Seorang siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi korban penganiayaan yang diduga dipicu persoalan asmara dan rasa cemburu.
‎Insiden tersebut terjadi pada Senin malam, 19 Januari 2026, di belakang Lapangan Karsa, Kota Gorontalo. Korban diduga dianiaya oleh tiga siswi lain yang berasal dari sekolah yang sama.

‎Kepala sekolah setempat, Syaiful Kadir, menjelaskan bahwa penganiayaan berawal dari konflik hubungan pribadi. Pelaku disebut merasa cemburu karena korban masih berkomunikasi dengan mantan pacarnya.

‎“Persoalan utamanya dipicu rasa cemburu. Mantan pacar pelaku diketahui masih dekat dengan korban,” ujar Syaiful
‎.
‎Berdasarkan keterangan orang tua korban, kekerasan yang dialami anaknya berlangsung cukup brutal. Korban ditarik rambutnya, dipukul, ditendang di bagian perut, hingga dibanting ke tanah.

‎“Anak saya sempat pusing setelah dibanting. Saat mencoba bangun, wajahnya disenter menggunakan handphone lalu kembali dipukul,” ungkap orang tua korban.

‎Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka fisik serta trauma psikologis dan membutuhkan waktu untuk pemulihan.

‎Pihak sekolah telah mengambil langkah penanganan dengan melakukan mediasi antara kedua belah pihak. Sanksi skorsing dijatuhkan kepada para pelaku, sementara korban diberikan dispensasi khusus untuk menjalani pemulihan.

‎“Kami menjatuhkan skorsing kepada pelaku dan memberikan dispensasi kepada korban agar fokus pada pemulihan,” tegas Syaiful.

‎Sementara itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) bersama Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo telah turun langsung meninjau kasus tersebut. Pemerintah memastikan penanganan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta memperhatikan aspek perlindungan anak.

‎Kasus ini menambah daftar kekerasan di kalangan remaja dan menjadi pengingat pentingnya penguatan edukasi pengendalian emosi, relasi sehat, serta pengawasan lingkungan sosial bagi pelajar.