GORONTALO, – Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan tenaga kesehatan yang kompeten dan berdaya saing melalui kegiatan Pembekalan Praktik Belajar Klinik (PBK) II dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa Program Studi D3 Analis Kesehatan, Fakultas Sains, Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FSTIK). Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (28/1/2026) bertempat di Aula Kampus UBMG.
Pembekalan ini menjadi tahapan akademik strategis sebelum mahasiswa terjun langsung ke dunia kerja, baik di fasilitas pelayanan kesehatan maupun laboratorium rujukan. Adapun lokasi pelaksanaan PKL berada di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Masyarakat Makassar, sementara PBK II dilaksanakan di 14 Rumah Sakit yang tersebar di Provinsi Gorontalo.
Kegiatan pembekalan menghadirkan tiga narasumber berkompeten di bidang Analis Kesehatan dan Laboratorium Medik. Syaiful, S.Tr.Kes menyampaikan materi Etika Profesi dan Kode Etik Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM), Firman, S.Tr.Kes membawakan materi Pengenalan dan Penguatan Metode Pemeriksaan pada Berbagai Alat Laboratorium, serta Laras Puspita Taib, M.Biomed dengan materi Tata Cara Penulisan Jurnal dan Laporan Kegiatan.
Rektor UBMG, Dr. Titin Dunggio, M.Si, M.Kes dalam sambutannya menyampaikan bahwa PBK II dan PKL merupakan implementasi nyata dari kurikulum berbasis kompetensi yang dirancang untuk menjawab kebutuhan dunia kerja.
Mahasiswa Analis Kesehatan telah melewati berbagai fase pembelajaran, dan saat ini memasuki tahap pembelajaran kontekstual melalui PBK dan PKL.
”Kegiatan ini bukan sekadar formalitas akademik, tetapi sarana penguatan kompetensi keilmuan, keterampilan profesional, serta etika kerja,” tegas Rektor Titin.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa membawa identitas dan reputasi almamater selama berada di lokasi praktik.
“Tunjukkan sikap profesional, kemampuan, dan etika yang baik. Dengan membawa label almamater UBMG, mahasiswa diharapkan mampu memberikan kesan positif dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat serta institusi tempat praktik,” tambah Rektor Titin.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk membangun komunikasi yang baik di lingkungan kerja, memahami struktur organisasi, serta bekerja secara aktif dan progresif sesuai dengan pedoman dan standar operasional yang berlaku.
Selain itu, Kampus UBMG terus membuka peluang pengembangan akademik melalui studi kepakaran, KKM internasional, serta rekognisi mata kuliah, baik di dalam maupun luar negeri, dengan proses seleksi yang menitikberatkan pada kemampuan akademik dan penguasaan bahasa Inggris.
Rektor Titin berharap seluruh rangkaian kegiatan PBK II dan PKL dapat berjalan dengan lancar serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas lulusan.
“Saya berharap seluruh mahasiswa dapat mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh, menjaga kesehatan, disiplin, dan semangat belajar. Semoga PBK dan PKL ini menjadi bekal penting dalam membentuk Analis Kesehatan yang kompeten, profesional, dan siap mengabdi untuk masyarakat,” harap Rektor Titin.
Wakil Dekan FSTIK UBMG, Fatmah Ma’ruf, M.Si, menyampaikan bahwa pembekalan ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman teoretis dan sikap profesional sebelum terjun ke lapangan.
“Mahasiswa perlu menjunjung tinggi etika profesi, disiplin, serta tanggung jawab selama kegiatan PBK dan PKL. Jaga komunikasi dengan dosen pembimbing dan pihak institusi, serta dokumentasikan setiap kegiatan dalam jurnal sebagai bahan evaluasi akademik,” jelasnya.
Ketua Prodi D3 Analis Kesehatan UBMG, Laras Puspita Taib, M.Biomed, menjelaskan secara teknis pelaksanaan kedua kegiatan tersebut. PKL di BBLK Makassar diikuti oleh 82 mahasiswa semester V yang terbagi dalam dua gelombang, yakni Gelombang I pada 31 Januari – 3 Maret 2026, dan Gelombang II pada 9 Maret 2026. ======
Adapun kegiatan PBK II akan dilaksanakan di 14 Rumah Sakit di Provinsi Gorontalo, diikuti oleh 72 mahasiswa semester III, yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Februari – 3 Maret 2026.
“Melalui PBK II dan PKL ini, mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik kerja di lapangan, sehingga dapat mencetak Analis Kesehatan yang kompeten, profesional, dan siap bekerja sesuai standar pelayanan kesehatan,” jelas Laras.
Dalam materinya, Syaiful, S.Tr.Kes menegaskan bahwa etika profesi merupakan fondasi utama dalam praktik Analis Kesehatan.
“Mahasiswa Analis Kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga integritas, tanggung jawab, serta kepatuhan terhadap kode etik ATLM. Etika profesi menjadi penentu kepercayaan masyarakat terhadap layanan laboratorium,” terang Syaiful.
Sementara itu, Firman, S.Tr.Kes menekankan pentingnya penguasaan metode pemeriksaan dan pemahaman alat laboratorium sebagai bagian dari kompetensi inti lulusa






















