Bangun Spiritualitas Akademik Jelang Ramadan, UBMG Teguhkan Identitas Kampus Unggul dan Mengglobal ‎

Menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) menggelar Apel Kerja yang dirangkaikan dengan Shalat Dhuha berjamaah, dzikir, doa, kultum, serta halal bi halal, Sabtu (14/02/2026) pagi.
Menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) menggelar Apel Kerja yang dirangkaikan dengan Shalat Dhuha berjamaah, dzikir, doa, kultum, serta halal bi halal, Sabtu (14/02/2026) pagi.

Otanaha.id -

GORONTALO – Menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) menggelar Apel Kerja yang dirangkaikan dengan Shalat Dhuha berjamaah, dzikir, doa, kultum, serta halal bi halal, Sabtu (14/02/2026) pagi.

‎Kegiatan berlangsung khidmat di Musholla At-Tin Kampus UBMG dan diikuti oleh pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh sivitas akademika.

‎Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial keagamaan, tetapi juga momentum refleksi akademik dan konsolidasi kelembagaan dalam memperkuat budaya organisasi berbasis nilai-nilai religius dan profesionalisme.

‎Dalam perspektif tata kelola perguruan tinggi, kegiatan tersebut mencerminkan komitmen UBMG dalam mengintegrasikan religiusitas dengan manajemen akademik modern. Integrasi ini menjadi bagian dari penguatan sistem kelembagaan, budaya mutu, serta pembentukan karakter institusi yang berdaya saing.

‎Hal tersebut selaras dengan visi UBMG sebagai perguruan tinggi yang Unggul, Berkarakter, dan Mengglobal—tidak hanya dalam aspek sains dan akademik, tetapi juga dalam dimensi moral, etika, dan nilai kemanusiaan.

‎Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UBMG, Dr. Imam Mashudi, M.Pd., dalam arahannya menegaskan bahwa keberhasilan institusi pendidikan tinggi tidak semata diukur dari capaian akademik, melainkan juga dari kualitas karakter dan integritas sivitas akademika dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi.

‎“Perguruan tinggi tidak cukup hanya membangun keunggulan intelektual dan kompetensi akademik, tetapi juga harus membangun karakter, etika, dan spiritualitas. Budaya kerja yang kuat lahir dari nilai moral, kejujuran, tanggung jawab, dan keikhlasan. Inilah fondasi utama universitas yang unggul dan berdaya saing,” tegasnya.

‎Sebagai kampus dengan nuansa syiar keislaman yang kuat, UBMG memaknai ibadah tidak sebatas ritual formal, melainkan sebagai sistem nilai yang membentuk cara berpikir, bekerja, dan melayani. Religiusitas dipahami sebagai kesadaran moral kolektif yang melahirkan kejujuran akademik, tanggung jawab profesional, disiplin kerja, etika pelayanan, serta komitmen terhadap keadilan dan kemanusiaan.

‎Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun iklim akademik yang sehat, bebas dari praktik non-etis, serta berorientasi pada keunggulan mutu pendidikan.

‎Dr. Imam juga menekankan pentingnya menjaga produktivitas kinerja institusional selama Ramadan tanpa mengurangi kualitas layanan akademik.

‎“Ramadan harus menjadi momentum peningkatan kualitas diri, bukan penurunan kinerja. Justru di bulan inilah kita melatih disiplin, keikhlasan, dan konsistensi,” ujarnya.

‎Ia menambahkan, kampus religius dan profesional bukan sekadar konsep simbolik, tetapi arsitektur nilai kelembagaan yang membentuk identitas UBMG. Religiusitas membangun karakter dan integritas, sementara profesionalisme membangun sistem yang efektif dan produktif. Keduanya berpadu menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang berorientasi pada keunggulan berkelanjutan (sustainable excellence).

‎“Saya mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjaga performa kerja, meningkatkan kualitas ibadah, serta menjaga kesehatan agar seluruh program akademik dan pelayanan mahasiswa tetap berjalan optimal,” tambahnya.

‎Sementara itu, kultum disampaikan oleh Dr. Sudarsono, MM, dengan tema “Proses Penobatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah”. Materi tersebut mengangkat nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai model kepemimpinan transformatif yang berlandaskan shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas), dan tabligh (komunikatif), yang relevan dengan pengembangan kepemimpinan akademik dan manajerial di perguruan tinggi.

‎Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama dan halal bi halal sebagai simbol rekonsiliasi sosial, penguatan ukhuwah institusional, serta pembentukan iklim kerja yang harmonis dan kolaboratif menjelang Ramadan.


‎Melalui momentum ini, UBMG semakin meneguhkan posisinya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada keunggulan akademik, tetapi juga pada pembangunan karakter, spiritualitas, dan budaya organisasi yang sehat. Sekaligus memperkuat branding sebagai kampus yang humanis, religius, modern, dan adaptif terhadap tantangan global pendidikan tinggi, khususnya di Gorontalo dan kawasan Indonesia Timur