GORONTALO – Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Gorontalo melaporkan hasil rukyatul hilal awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi yang digelar Selasa (17/2/2026). Observasi dilakukan di rooftop IAIN Sultan Amai Gorontalo, Kota Gorontalo.
Pemantauan dipimpin Kepala Bidang Bimas Islam Kanwil Kemenag Gorontalo, H. Asrul Lasapa, bersama tim dan unsur BMKG. Hasilnya, hilal tidak terlihat.
Secara astronomis, tinggi hilal tercatat minus 1 derajat 50,38 menit dengan elongasi 1 derajat 25,17 menit.
Matahari terbenam pukul 18.04.40 WITA, sementara bulan lebih dulu terbenam pada 17.58.15 WITA. Artinya, posisi bulan masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam.
Ketua Tim Urais Binsyar Kemenag Gorontalo, Safrianto Kaaowan, menjelaskan ketinggian hilal di wilayah Gorontalo berada di kisaran minus 1,5 derajat.
“Bulan masih di bawah ufuk dan terbenam lebih dahulu dari matahari. Secara kriteria, ini belum memenuhi syarat visibilitas minimal 3 derajat,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, peluang terlihatnya hilal sangat kecil. Secara hisab dan rukyat, posisi ini mengindikasikan awal Ramadan berpotensi ditetapkan melalui mekanisme istikmal atau penyempurnaan bulan berjalan menjadi 30 hari.
Meski demikian, Kemenag Gorontalo menegaskan hasil ini merupakan bagian dari laporan nasional. Keputusan resmi tetap menunggu sidang isbat yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia di tingkat pusat.
“Untuk penetapan awal Ramadan, kita menunggu pengumuman resmi melalui sidang isbat,” tandas Safrianto.
Laporan dari Gorontalo akan digabungkan dengan hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah di Indonesia sebelum pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah secara resmi. ( Hadi)




















