‎Mahasiswa Asing UMGO Ikut KKN Internasional di Malaysia, Givania Tebar Pesan Toleransi dan Kebersamaan

Mahasiswa asal Timor Leste yang tengah menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), saat mengikuti program KKN Kemitraan Internasional (KKN KI) di Malaysia.
Mahasiswa asal Timor Leste yang tengah menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), saat mengikuti program KKN Kemitraan Internasional (KKN KI) di Malaysia.

Otanaha.id -

GORONTALO – Semangat pengabdian tak mengenal batas negara maupun perbedaan keyakinan. Hal itu ditunjukkan Givania Soreas Bento, mahasiswa asal Timor Leste yang tengah menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), saat mengikuti program KKN Kemitraan Internasional (KKN KI) di Malaysia.

‎Givania menjadi satu dari lima mahasiswa UMGO yang ambil bagian dalam program pengabdian lintas negara tersebut. Selama 28 hari, mereka bertugas di Sanggar Bimbingan (SB) untuk mendampingi dan mengajar anak-anak Warga Negara Indonesia (WNI), khususnya dalam penguatan literasi, pendidikan dasar, serta pembinaan keagamaan dan sosial.

‎Program KKN KI sendiri merupakan agenda pengabdian masyarakat internasional yang rutin digelar jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) di Malaysia. Fokusnya mencakup bidang pendidikan, sosial, dan budaya, dengan sasaran komunitas WNI yang membutuhkan pendampingan belajar.

‎Bagi Givania, pengalaman ini bukan sekadar program akademik, tetapi ruang belajar tentang toleransi dan kebersamaan. Sebagai mahasiswa beragama Kristen di kampus berbasis Islam, ia mengaku merasa diterima dan dihargai selama menjalankan pengabdian.

‎“Saya sangat bersyukur. Meski berbeda keyakinan, saya diterima dengan hangat. Kami saling menghormati dan bekerja untuk tujuan yang sama, membantu anak-anak Indonesia di Malaysia,” ujarnya.

‎Menariknya, sebagai bentuk penghormatan terhadap lingkungan mayoritas Muslim, Givania memilih mengenakan hijab selama kegiatan berlangsung. Ia menyebut keputusan tersebut lahir dari kesadaran pribadi, bukan karena paksaan.

‎“Awalnya canggung karena belum pernah memakai hijab. Tapi teman-teman membantu dan memberi dukungan. Saya memakainya sebagai bentuk rasa hormat. Dari situ saya belajar tentang empati dan saling menghargai,” tuturnya.

‎Selama hampir satu bulan, Givania dan tim aktif mengajar membaca, menulis, serta mendampingi berbagai aktivitas sosial anak-anak WNI.

‎ Ia mengaku pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya tentang kehidupan diaspora Indonesia di luar negeri sekaligus melatih kesabaran dan komunikasi lintas budaya.

‎Menurutnya, KKN KI bukan hanya tentang menuntaskan program kerja, tetapi membangun kepedulian dan mempererat persaudaraan di tengah keberagaman.
‎Keikutsertaan Givania menjadi bukti bahwa semangat pengabdian mampu melampaui sekat geografis dan perbedaan iman. Dari Gorontalo hingga Malaysia, mahasiswa UMGO menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan nilai yang hidup dalam aksi nyata. (Hadi)