GORONTALO – Langkah besar menuju Gorontalo sebagai embarkasi haji penuh resmi dimulai. Ditandai dengan groundbreaking pelebaran apron dan pembangunan taxiway, Bandara Djalaluddin bersiap naik kelas untuk melayani pesawat berbadan lebar (wide body) hingga sekelas Boeing 777.
Kepala Bandara Djalaluddin, Joko Harjani, ST., M.Si., menegaskan pekerjaan fisik tersebut menjadi bagian dari tahapan strategis pengembangan bandara. Proyek pelebaran apron dan taxiway ditargetkan rampung pada November 2026.
“Hari ini kita sudah melakukan groundbreaking. Pekerjaan pelebaran apron dan taxiway segera dilaksanakan oleh kontraktor. Mudah-mudahan selesai tepat waktu,” ujar Joko, Kamis (20/2).

Keselamatan Jadi Prioritas Utama
Meski proyek berlangsung di sisi udara, Joko memastikan operasional penerbangan tetap berjalan normal. Lokasi pekerjaan berada di sebelah apron existing sehingga tidak mengganggu aktivitas pesawat yang beroperasi.
Namun demikian, seluruh tahapan tetap mengacu pada regulasi penerbangan yang ketat. Penerbitan NOTAM (Notice to Airmen), pengukuran teknis, hingga penyusunan metode kerja dan outworking plan menjadi prosedur wajib.
“Kita bekerja di area sisi udara yang sangat rawan terhadap keselamatan penerbangan. Semua SOP harus dilaksanakan secara disiplin,” tegasnya.
Pengembangan ini merupakan respons atas keinginan Pemerintah Provinsi Gorontalo agar daerah ini berstatus embarkasi haji penuh, bukan lagi embarkasi antara seperti 17 tahun terakhir.
Master plan pengembangan bandara telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Perhubungan Tahun 2023 dengan ultimate runway sepanjang 2.800 meter. Saat ini panjang runway efektif mencapai 2.500 meter.
Secara teknis, panjang tersebut dinilai cukup untuk operasional pesawat sekelas Boeing 777, sebagaimana diterapkan di sejumlah bandara lain di Indonesia.
Saat ini, pesawat terbesar yang beroperasi di Djalaluddin adalah Boeing 737-900 dengan kapasitas sekitar 213 penumpang. Jika Boeing 777 dapat beroperasi, kapasitas akan melonjak hingga sekitar 415 penumpang—hampir dua kali lipat.
“Artinya akan ada peningkatan kapasitas hampir 100 persen,” jelas Joko.
Tahapan Strategis Pengembangan
Beberapa pekerjaan utama yang dilaksanakan antara lain:
1. Pelebaran apron untuk parkir pesawat wide body
2. Pembangunan dan perluasan taxiway
Overlay runway untuk memenuhi standar operasional pesawat wide.
3. Rekondisi alat bantu pendaratan visual dan sistem presisi
4. Pelebaran turning area untuk manuver pesawat besar
5 . Modernisasi alat bantu pendaratan menjadi penting mengingat kondisi geografis sekitar bandara yang berdekatan dengan danau, sehingga kabut kerap muncul pada pagi hari.
Untuk tahap awal, keberangkatan haji direncanakan menggunakan skema transit pengisian bahan bakar di bandara antara seperti Kualanamu, Padang, atau Batam sebelum melanjutkan penerbangan ke Jeddah.
Sementara penerbangan kembali dari Jeddah ke Gorontalo dapat dilakukan langsung karena beban bahan bakar lebih ringan.
Kementerian Perhubungan menargetkan seluruh tahapan pengembangan rampung pada akhir 2027. Dengan demikian, Bandara Djalaluddin siap mengoperasikan pesawat wide body sekaligus memperkuat posisi Gorontalo sebagai embarkasi haji penuh.
“Insya Allah, akhir 2027 Bandara Djalaluddin sudah siap mengoperasikan pesawat wide body,” pungkas Joko.
Dengan dimulainya proyek ini, Gorontalo tak sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga membangun lompatan masa depan dan membuka konektivitas lebih luas, mempercepat pertumbuhan ekonomi, dan mengukuhkan diri sebagai gerbang udara strategis di kawasan timur Indonesia. (Hadi)






















