GORONTALO – Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Gorontalo mulai mematangkan persiapan pelaksanaan Pasar Senggol menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Tradisi tahunan yang menjadi ikon kemeriahan Ramadan di Kota Gorontalo itu ditargetkan mulai beroperasi akhir pekan ini.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Gorontalo, Haryono Soeronota, Jumat (27/2/2026), menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pengukuran lapak (coupling) di sejumlah titik lokasi.
“Dari hasil pengukuran kemarin, kurang lebih ada 269 lapak yang akan dibangun. Angka ini masih bisa berkurang, menyesuaikan kondisi di lapangan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Lima Titik Strategis
Tahun ini, Pasar Senggol akan dipusatkan di lima ruas jalan utama. Jika sebelumnya terdapat enam lokasi, kini dikurangi menjadi lima titik, yakni Jalan MT Haryono, Jalan Sutoyo, Jalan Esparman, Jalan Suprapto, dan Jalan Imam Bonjol.
Untuk lokasi Jalan Imam Bonjol, pemasangan tenda telah lebih dulu dimulai. Bahkan, kawasan tersebut ditargetkan sudah bisa digunakan pedagang untuk berjualan pada Sabtu malam (malam Minggu) mendatang.
“Imam Bonjol sudah mulai pemasangan tenda. Insya Allah malam Minggu ini sudah bisa dibuka untuk penjualan, termasuk hiburan musik,” jelas Haryono.
Sementara empat lokasi lainnya dijadwalkan mulai pemasangan tenda pada 5 Maret 2026. Penjadwalan ini mempertimbangkan agenda kegiatan lain di pusat kota, sehingga tidak terjadi tumpang tindih aktivitas.
Luas Lapak dan Mekanisme Setoran
Setiap lapak ditetapkan berukuran 4 x 4 meter. Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kewajiban setoran bagi pedagang tidak dipatok dengan nominal tertentu.
“Untuk kewajiban tidak dipatok berapa besarannya. Disesuaikan dengan kemampuan pedagang. Setorannya langsung ke kas daerah,” tegasnya.
Setoran tersebut akan masuk langsung ke rekening kas umum daerah melalui bank yang telah ditentukan pemerintah. Kebijakan ini diambil untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas pengelolaan retribusi.
Meski demikian, pengelola lapak tetap memiliki tanggung jawab menyediakan fasilitas dasar seperti tenda dan instalasi listrik. Biaya operasional tersebut menjadi bagian dari pengaturan internal antara pengelola dan pedagang.
Antisipasi Parkir dan Kepadatan
Terkait pengaturan parkir, Haryono menyebut koordinasi akan dilakukan lintas instansi, mengingat sebagian kawasan Pasar Senggol berada di pusat kota yang rawan kepadatan.
“Untuk teknis parkir kemungkinan lebih tepat dijelaskan oleh dinas terkait. Tapi tentu tetap ada koordinasi agar tidak menimbulkan kemacetan, apalagi ini pusat aktivitas masyarakat,” katanya.
Pemerintah Kota Gorontalo berharap pelaksanaan Pasar Senggol tahun ini tetap menjadi ruang ekonomi rakyat sekaligus menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan pengunjung.
Dengan persiapan yang terus dimatangkan, Pasar Senggol 2026 diharapkan kembali menjadi magnet perputaran ekonomi masyarakat sekaligus menghadirkan semarak tradisi jelang Lebaran di Kota Gorontalo. (Hadi)























